INFO JAKARTA

Mau Ujian Sekolah, Pelajar SMK di Palmerah Dibacok Gerombolan Bermotor, Dua Pelaku Ditangkap Polisi

JAKARTA – Aksi kekerasan jalanan yang melibatkan pelajar kembali mencoreng dunia pendidikan di Jakarta Barat. Seorang siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) berinisial F, pelajar kelas XI, menjadi korban pembacokan oleh sekelompok pelajar bermotor saat hendak berangkat ke sekolah untuk mengikuti ujian.

Peristiwa yang terjadi di Jalan Palmerah Barat Gang T, Palmerah, Jakarta Barat, tersebut mengakibatkan korban mengalami luka serius di bagian punggung dan bahu kanan hingga harus menjalani perawatan intensif. Akibat luka yang dideritanya, korban gagal mengikuti ujian sekolah yang seharusnya dijalani pada hari kejadian.

Aksi penyerangan itu terjadi pada Selasa (9/6/2026) ketika korban berjalan seorang diri menuju sekolah. Tanpa diduga, korban dihampiri sekelompok pelajar yang datang menggunakan beberapa sepeda motor. Situasi yang awalnya tampak biasa berubah mencekam ketika para pelaku langsung mengejar dan menyerang korban.

Rekaman kamera pengawas (CCTV) yang beredar luas di media sosial memperlihatkan detik-detik korban berusaha menyelamatkan diri dari kejaran para pelaku. Dalam rekaman tersebut, salah satu pelaku tampak memukul korban menggunakan ikat pinggang atau gesper, sementara pelaku lainnya mengayunkan senjata tajam jenis celurit ke arah punggung korban.

Usai melakukan penyerangan, para pelaku langsung melarikan diri meninggalkan lokasi kejadian. Warga sekitar yang melihat korban terluka segera memberikan pertolongan dan membawa korban untuk mendapatkan penanganan medis.

Akibat sabetan senjata tajam tersebut, korban mengalami luka bacok yang cukup serius dan harus mendapatkan tujuh jahitan. Kondisi korban yang masih lemah membuatnya belum dapat kembali beraktivitas normal, termasuk mengikuti kegiatan belajar di sekolah.

Ayah korban, Rofi, mengaku sangat terpukul atas kejadian yang menimpa anaknya. Ia mengatakan putranya berangkat dari rumah seperti biasa untuk mengikuti ujian sekolah, namun justru menjadi korban kekerasan di jalan.

“Anak saya pamit berangkat ujian seperti biasa. Saya tidak menyangka malah mendapat kabar kalau dia dibacok di jalan. Kami sebagai orang tua sangat terpukul dan berharap pelaku diproses sesuai hukum,” ujar Rofi saat dikonfirmasi di kediamannya, Rabu (10/6/2026).

Menindaklanjuti laporan tersebut, jajaran Polsek Palmerah langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa sejumlah rekaman CCTV di sekitar lokasi. Dari hasil penyelidikan sementara, polisi berhasil mengidentifikasi dua pelajar berinisial AS dan MF yang diduga terlibat dalam aksi pembacokan tersebut.

Kedua terduga pelaku diamankan petugas saat sedang menjalani ujian di sekolah masing-masing. Polisi mengambil langkah cepat untuk mencegah kemungkinan pelaku melarikan diri maupun menghilangkan barang bukti.

Kapolsek Palmerah, AKP Parman BM Nainggolan, mengatakan pihaknya masih mendalami motif penyerangan tersebut. Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan awal, kasus ini diduga bukan merupakan tawuran antarpelajar seperti yang kerap terjadi sebelumnya.

“Korban saat itu berjalan seorang diri menuju sekolah. Dari hasil penyelidikan sementara, korban dan pelaku juga diduga tidak saling mengenal. Jadi, hal ini masih kami dalami lebih lanjut terkait motifnya,” kata AKP Parman BM Nainggolan saat dikonfirmasi, Rabu (10/6/2026).

Dalam pengungkapan kasus ini, polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti berupa sebilah celurit serta seragam sekolah yang diduga digunakan para pelaku saat melakukan aksi penyerangan.

Hingga kini, penyidik masih terus memeriksa para terduga pelaku untuk mendalami peran masing-masing serta menelusuri kemungkinan adanya pelaku lain yang turut terlibat dalam aksi kekerasan tersebut.

Karena seluruh terduga pelaku masih berstatus anak di bawah umur, proses hukum akan dilakukan sesuai dengan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak. Polisi juga berkoordinasi dengan pihak keluarga serta sekolah guna mendukung proses pemeriksaan dan pendampingan terhadap para pelaku maupun korban.

Di sisi lain, Pemerintah Kecamatan Palmerah menyatakan keprihatinannya atas kembali terjadinya aksi kekerasan yang melibatkan pelajar. Camat Palmerah, Febriandri Suharto, menegaskan pentingnya pengawasan bersama antara sekolah, orang tua, dan aparat keamanan guna mencegah kasus serupa terulang.

“Kami sangat prihatin dengan kejadian ini. Pemerintah kecamatan akan berkoordinasi dengan sekolah, kepolisian, dan seluruh pihak terkait agar pengawasan terhadap para pelajar lebih diperkuat,” ujar Febriandri Suharto.

Ia juga menegaskan bahwa terdapat aturan yang memungkinkan pemberian rekomendasi terkait bantuan pendidikan bagi siswa yang terbukti melakukan pelanggaran berat, termasuk tindak kekerasan yang membahayakan keselamatan orang lain.

Kasus pembacokan ini kembali menambah daftar panjang kekerasan yang melibatkan pelajar dan menjadi perhatian serius berbagai pihak karena tidak hanya mengancam keselamatan pelajar, tetapi juga menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Johnit Sumbito