Ternyata Tak Semua Lansia Berhak, Kartu Lansia Menyisakan Luka
Kartu Lansia sisakan luka sebagian Lansia yang tidak masuk kriteria aturan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, Kamis (2/4/2026). Foto: Ilustrasi
JAKARTA – Harapan di masa tua tak selalu berjalan mulus. Mengurus Kartu Lansia di DKI Jakarta ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Banyaknya kriteria membuat tidak semua warga lanjut usia bisa merasakan bantuan tersebut.
Kamis (2/4/2026), seorang warga Kelurahan Rawa Buaya, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, harus pulang dengan kecewa. Niatnya untuk mengurus Kartu Lansia kandas setelah mendapat penjelasan dari petugas pendataan, Putri.
Dengan nada hati-hati, Putri menjelaskan bahwa proses pengajuan tidak hanya soal usia. Data keluarga calon penerima harus diperiksa secara menyeluruh.
“Kalau ingin mendapat Kartu Lansia, orang tersebut harus benar-benar tergolong kurang mampu,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, tim pendataan bahkan harus menelusuri kepemilikan kendaraan keluarga melalui Samsat. Jika dalam satu keluarga terdapat lebih dari satu kendaraan, maka pengajuan bisa langsung gugur.
Selain itu, daya listrik rumah juga menjadi penentu. Lansia dengan kapasitas listrik di atas 1.300 watt dinilai tidak memenuhi syarat, meski kondisi kesehatannya mungkin sudah menurun.
Yang lebih menyayat, penghasilan anak-anak juga ikut diperhitungkan. Jika gaji mereka melebihi Upah Minimum Provinsi (UMP), maka lansia tersebut dianggap tidak layak menerima bantuan.
“Ya ditunggu saja, Pak. Mudah-mudahan nanti ada petugas yang datang mendata agar bisa mendapat bantuan. Ini sudah didaftarkan,” kata Putri di ruang kerjanya.
Namun di balik penjelasan prosedur itu, tersimpan kegelisahan warga. Salam, warga RT 13 RW 04, menilai aturan tersebut terasa tidak adil.
Baginya, lansia seharusnya dipandang dari sisi kemanusiaan, bukan sekadar angka dan data administratif.
“Ini tidak adil. Orang yang sudah tidak berdaya masih harus dibebani berbagai syarat. Tidak semua anak bisa langsung membantu, apalagi jika tinggal jauh atau punya beban sendiri,” ujarnya dengan nada getir.
Ia pun mempertanyakan apakah aturan tersebut benar-benar mencerminkan kondisi nyata di lapangan.
Di tengah usia senja yang seharusnya dipenuhi ketenangan, sebagian lansia justru harus berjuang menghadapi birokrasi. Harapan sederhana untuk mendapatkan perhatian dari negara pun terasa semakin jauh. Johnit Sumbito
