BISNIS

Kisah Pengusaha Keripik Buah Di Desa Tulungrejo Kota Batu Yang Pernah Digulung Pandemi Covid-19 Dan Bangkit Lewat TikTok

KOTA BATU. Infomalangnews.com – Sejak 2020 hingga 2021 banyak peluang usaha yang bangkrut hingga ditutup, ini disebabkan kala itu Indonesia dilanda pandemi Covid-19. Salah satunya yang terdampak adalah usaha keripik buah Kendedes Selecta Fruit di Desa Tulungrejo, Kota Batu.

Pemilik Kendedes Selecta Fruit, Khamim Tohari, mengatakan bahwa usaha yang dirintisnya sejak 2012 tidak mudah untuk mencapai pasar yang diinginkannya. Diakui, karena pandemi Covid-19 sempat tutup akibat sepi orderan.

“Waktu itu toko oleh-oleh enggak ada pesanan, wisatawan menurun dan kita kehilangan pendapatan sehingga sejak awal Covid-19 2020 sampai Oktober 2021 tutup,” katanya, Jumat (6/1/2023), saat ditemui di tempat produksi keripiknya.

Namun demikian, lanjut dia, dalam kondisi keterpurukan keberanian muncul untuk tampil di media sosial. Bagaimana cara memasarkan produk keripik buah yang sudah diproduksi. Ia mulai memanfaatkan media sosial TikTok untuk memasarkannya.

“Saya pikir-pikir pesanan sekarang kan jumlahnya jauh berkurang dibandingkan sebelum pandemi, kemudian TikTok ini kan banyak penggunanya terus viral, saya kepikiran kenapa tidak memanfaatkan ini. Akhirnya ya sudah saya jalankan,” tuturnya.

Lewat akun TikTok @keripikkendedes1 yang dibuat, Khamim memberanikan diri memulai usahanya kembali pada November 2021. Saat itu, ia juga canggung untuk tampil dan berbincang di media sosial itu. Dan, hampir setiap hari Khamim mempromosikan produknya lewat TikTok. Biasanya, ia lebih intensif melakukannya pada hari libur.

“Kalau hari kerja biasanya saya promosi lewat TikTok itu jam 12 siang sama sore hari, terus kalau Minggu kadang lebih nggak kenal waktu, karena banyak orang libur jadi momen untuk usaha,” katanya.

Tidak diduga, dari sini usaha keripik buah miliknya berangsur-angsur bangkit kembali. Hingga pasarnya tembus ke luar negeri, diantaranya Hongkong, Thailand, Malaysia serta di pasar Indonesia seperti Malang, Jakarta, Surabaya dan Bandung. “Ongkos kirim ke luar negeri mahal,” ucapnya.

Kemudian, menjelang tutup tahun 2022 yang lalu dari beberapa jenis keripik seperti apel, pisang, nangka, mangga, nanas dan salak mengalami peningkatan pesanan mencapai 60 persen.

“Peningkatan pemasarannya juga ke Lampung, Bandung, Jakarta. Tetapi yang paling besar pasarnya di Malang Raya, biasanya dari toko oleh-oleh tapi ada juga yang beli kemudian dijual lagi. Karena keripik buah ini kan di Malang ketika musim liburan banyak wisatawan datang menjadi buah tangan,” kata Khamim

Yang paling utama apel karena bahan bakunya setiap hari ada di Malang juga daerah lain seperti Nongkojajar. Kalau seperti lainnya, nangka berjalan musiman, bulan ini memang banyak dan diperkirakan bulan kedua 2023 sudah menurun bahan bakunya.

“Setiap hari untuk produksi keripik apel saja membutuhkan bahan baku buah apel sekitar 1,5 ton. Sementara, pada bulan-bulan sebelumnya paling tinggi kebutuhan bahan baku tersebut sekitar 1 ton dalam sehari,” terang dia.

Kini harga keripik buahnya juga mengalami kenaikan sejak Oktober tahun lalu seiring dengan adanya kenaikan harga kebutuhan pokok dan BBM. “Selisih naiknya nggak banyak Rp 5.000, karena seperti minyak goreng kan naik, BBM. Ini kita jualnya grosiran,” katanya.

Usaha yang sudah ada sejak tahun 2012 lalu itu, kini dalam sehari dapat menghasilkan omzet sekitar Rp 9 juta. Bahkan pemasaran lewat TikTok, diakui Khamim pernah mendapatkan hasil Rp 6 juta sehari, tidak hanya itu pernah lebih hingga Rp 21 juta dalam sehari.

Total ada 40 pegawai yang bekerja, dimana pekerjanya juga warga setempat dan produksi dilakukan mulai pukul 06.00 WIB hingga 16.00 WIB.

“Ada peningkatan, Alhamdulillah karena pandemi awal itu kita sempat tutup. Terus tahun 2022 mulai produksi lagi bertahap sampai sekarang ini, dulu awal setelah tutup itu hanya 25 pegawai, permintaan terus ada sekarang ada 40 pegawai, tapi mereka giliran,” tutupnya.

 

 

 

 

Putut